7 Alasan Mengajukan Surat Pengunduran Diri

Hai teman-teman pembaca! 
Semoga kabar kalian selalu sehat!

By the way, ini masih awal tahun loh, kok sudah ngomongin pengunduran diri aja. Lagi kenapa toh? Lagi ada masalah apa? 

Eh, mengundurkan diri bukan hanya berarti ada masalah, loh ya.

Teman-teman yang sampai di postingan ini mungkin saja adalah seorang atasan yang sedang mencari alasan dibalik surat pengunduran diri karyawannya. Atau mungkin anda sendiri adalah orang yang akan mengajukan surat pengunduran diri tersebut.

Well, perlu kita ketahui bahwa dibalik dinamika kehidupan yang sangat bermacam-macam. Masing-masing orang memiliki latar belakang, kondisi dan alasan yang berbeda-beda dalam menghasilkan sebuah keputusan. 
Saya bisa bilang begini karena saya pernah mengajukan surat pengunduran diri. Dan yang saya amati, prosesnya tidak seperti yang ada di film-film. Tidak juga seperti beberapa cerita yang berseliweran di timeline Quora saya yang isinya berkaitan dengan depresi, pelecehan, kurangnya pesangon alias gaji, dll.
Dalam postingan ini, saya akan menuliskan beberapa alasan yang saya amati menjadi beberapa alasan orang-prang yang say atau mengundurkan diri dari kerjaannya.


Saya sendiri memiliki satu alasan yang telah matang-matang saya pikirkan hampir selama 1 tahun. 
Lama amat.
Iya. Dan prosesnya bisa sampai selama itu karena ketikan awal terpikirkan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan, saya malah merasa bahwa saya belum berusaha sekuat tenaga, dan kemudian terpikirkan untuk memberi diri kesempatan untuk mencoba setengah tahun lagi. Lah, malah akhirnya menjadi satu tahun. 

Kok bisa sampai selama itu? Karena alasan yang saya miliki berhadapan dengan banyak hal kompleks,  ditambah dengan perkembangan serta naik turunnya workflow, sampai akhirnya saya menyadari bahwa saya telah memiliki satu keputusan bulat untuk mengajukan surat pengunduran diri dan alasan itu adalah *saya merasa sudah tidak bisa maksimal dalam mengerjakan amanah yang diberikan pada saya. Saya juga merasakan penurunan semangat yang membuat saya menyerah untuk mencoba mencapai titik maksimal dalam setiap pekerjaan saya*

Simple. Tapi bisa saja alasan-alasan itu tidak dirasa masuk akal oleh beberapa orang.

Nah, selain 2 alasan itu. Ada beberapa alasan pendukung lainnya yang mungkin para pembaca bisa pertimbangkan. Namun, ingin saya ingatkan bahwa paling peting dari semua alasan-alasan ini adalah menghindari alasan yang tidak syar'i dan terkesan frustasi serta lari dari amanah. Selesaikan semua secara baik-baik setelah pertimbangan yang matang. Karena saya mendapat nasihat bahwa Jangan Meniru Nabi Yunus yang Lari dari Amanahnya.

3. Melanjutkan Pendidikan 
Dari SMA ke D3 atau ke S1, dari S1 ke S2, dari S2 ke S3.
Ada banyak orang yang mengajukan pengunduran diri dari kerja dengan alasan akan melanjutkan pendidikan. Kenapa harus berhenti sekolah? Bukannya melanjutkan pendidikan artinya membutuhkan biaya? Harusnya malah kerja dong!
Yah, melanjutkan pendidikan kadang memiliki banyak latar belakang dan syarat yang berbeda. Ketika study tidak bisa lagi dilakukan sambil bekerja karena memang sistem pembelajaran yang mengahruskan tatap muka, tidak ada kelas online, tidak tersedianya kelas karyawan, harus fokus, atau harus pindah ke daerah Kampus tempat study, tidka bisa pengajuan cuti, dll. Maka biasanya keputusan resign dilakukan oleh beberapa orang.

4. Tidak ada perkembangan 
Nah, masuk ke alasan-alasan ekstrim yang dilakukan orang ketika resign dna menimbulkan pergulatan emosi ialah rasa bosan. Monoton. Ketika saya merasa dalam satu tahun lebih itu, lebih banyak waktu monoton yang terjadi dalam lingkungan kerja, target lingkungan kerja, rekan kerja, bahkan diri saya sendiri. 
Sampai saya merasa, tidak punya masa depan di tempat ini.
Like, hey! Kita kerja itu juga harusnya berkembang loh. Ada target yang harus dikejar. Ada ilmu-ilmu baru yang harus dipelajari.
Dan ketika itu tidak dirasakan, ah diriku yang pengen banyak gerak ini jadi super bosan!

5. Lingkungan pekerjaan toxic.
Kenali baik-baik lingkungan kerja yang baik itu seperti apa. Lingkungan kerja yang buruk itu seperti apa. Ketika ada banyak orang tapi seperti tidak ada kehidupan. Tidak banyak bergerak dan memberi kontribusi, namun banyak memberikan komentar. Tidak melaksanakan tugas dan kewajiban namun banyak menuntut hak. 

6. Hilangnya rasa peduli.
Ketika hilang rasa peduli pada hal-hal yang terjadi di sekitar, sampai pada titik rasa peduli itu betul-betul susah untuk kembali ada, maka pertimbangkanlah.
Karena itu artinya sudah tidak ada rasa cinta terhadap pekerjaanmu.

7. Permintaan Orang tua.
Ini biasanya berlaku buat orang yang kerjanya di perantauan, dan tipe pekerjaannya bukan yang bisa work from anywhere.
Ketika ada permintaan orang tua yang terus-menerus diutarakan lalu ketika dipertimbangkan sedemikian rupa tetap mengharuskan untuk resign, pikirkanlah matang-matang.
Jika tempat kerja tidak mengizinkan cuti. Atau mungkin butuh waktu panjang yang tidak bisa diambil hanya dengan cuti.
Apalagi ketika orangtua anda adalah orang paling penting. Jangan sia-siakan kesempatan untuk berbakti kepadanya sebelum terlambat, entah kita yang mendahului atau mereka yang pergi dan kita yang ditinggal dengan penuh penyesalan.

8. Sakit
Salah satu alasan yang dengan berat membuat seorang terpaksa mengundurkan diri adalah karena sakit. Ketika cuti sakit sudah tidak bisa diambil atau bukan menjadi sebuah jalan. sakit menjadi jadwal rutinan mingguan. Atau sakit parah yang musti ditangani dengan serius, maka orang-orang sering memilih untuk mengundurkan diri untuk beristrirahat atau berobat. 

Nah itu dia beberapa alasan mengapa seseorang memutuskan untuk melakukan pengunduran diri dari temat kerja/perusahaannya. 
Kalau pembaca sendiri, apa alasan yang anda punya?


^Batakte, 07 Januari 2024
Ummu I. S.
Midnight random thoughts [02.08 AM]