Hujan Bulan Februari


Malang, 19/02/2012

Dingin menembus kulit,
tapi tak ada reaksi darinya.
Matanya tetap saja menatap langit
Tangannya menengadah,
memainkan rintik-rintik hujan yang turun
Sesekali ia tersenyum,
senyum sinis.
Entah apa yang ada di pikirannya.
Di depannya,
sepetak kebun rosella.
Hujan membawa aroma asam-manisnya
menyinggahi tiap hidung yang lewat.
Sekarang ia menatap kesana,
kosong.
Di pikirannya pasti menari berbagai hal.
Sekarang dia tersenyum,
kesengsem sepertinya.
Tapi entah karena apa.
Matanya menyapu sekitar.
Lalu ia tertawa,
seperti melihat hal yang lucu sekali.