Rezeki manusia sejak dalam kandungan

Konsep rezeki itu seperti apa?
Ia datang dengan berbagai macam jalan dan cara. Tetapi bentuknya pastilah halalan toyyiban. Yang ketika mengalir di darah kita, menjadikan kita dekat denganNya.
Begitu suatu kalimat yang pernah kudengar dari kajian online ust. Oemar Mita.
Rezeki itu pastilah halalan toyyiban. Ia diperoleh dengan cara yang Allah ridhoi, merupakan sesuatu yang tidak mendatangkan mudhorot, dan bentuknya pasti baik. Mendekatkan kita kepada akhirat. Kalau tidak, berarti itu bukan rezeki, ia hanya dunia.
Itulah kenapa di dalam Alquran, kata rezeki itu selalu disandingkan dengan hal-hal yang baik.
Saya lupa kalimat tepatnya seperti apa. Mungkin akan saya cek lagi nanti di YouTube.

Malam ini saya termenung setelah memeriksa list keperluan belanja bulanan rumah tangga kami dan calon bayi. Tidak banyak, kebutuhan pokok sandang pangan dan papan, serta tambahan perintilan-perintilan penting newborn yang sekiranya perlu dipersiapkan. Baru list rencana. Tapi justru disitulah yang membuat saya berpikir tentang rezeki.

Calon bayi ini, per hari saya menulis ini, usia kandungan sesuai perkiraan hasil USG adalah baru 174 hari (24 minggu). Insyaa Allah besok genap 25 minggu. Masih ada kurang lebih sekitar 100 hari menuju hari perkiraan ia akan dilahirkan ke dunia ini. Tapi di usianya yang bahkan belum dilahirkan di dunia itu, sudah dipikirkan baju apa yang akan dipakai membalut tubuhnya, gendongan seperti apa yang akan dibelikan untuk membantu menopang berat badannya, selimut warna apa yang akan menghangatkan tubuhnya, sabun merk apa yang akan membersihkan tubuhnya, dan lain sebagainya. Ia sudah mulai memiliki rezekinya sendiri. Bahkan di dalam rahim saat ini; sudah ditentukan, sebaik apa ia akan makan dari rezeki yang ayahnya peroleh, dan asupan makanan seperti apa yang ia terima dari plasenta yang menghubungkannya denganku, ibunya.

Maka saya teringat lagi bunyi salah satu hadits favorit zaman SMP. Hadits ke empat dalam Arba'in Nawawi tentang proses penciptaan manusia pada penggalan: fayanfuhu fiihirruuh, wayu'maru bi arba'i kalimaatin, bikatbi rizqihi, wa ajalihi, wa'amalihi, wasaqiyyun aw sa'iidun.

Setelah melalui setiap fase yang rata-rata menghabiskan 40 hari proses pembentukan; 40 hari nutfah, 40 hari 'alaqoh, dan 40 hari mudghoh, Allah subhanahu wata'ala lalu mengirimkan malaikat pada bayi tersebut untuk ditiupkan ruh dan mulai dituliskan ketetapan takdirnya atas 4 hal; rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan baik buruk hidupnya ia.

Empat hal yang telah ditetapkan (ditulis) semenjak dalam kandungan, setelah 40 hari yang ke tiga. Berarti kira-kira di usia kandungan 120 hari, bayi sudah mulai ditetapkan rezekinya. Maka secara hitungan kasar, usia bayi kira-kira 4 bulan, yaitu sekitar minggu ke 17-18 pada trimester kedua. Maa Syaa Allah...
Kalau dipikir-pikir kenapa di bulan ke empat? Kenapa pula setiap fase melewati 40 hari?
Sepertinya saya perlu mencari penjelasan lebih mendalam tentang ini sebagai pengetahuan tambahan.
Sekarang saya merenung saja, selain karena empat bulan adalah masa janin telah terbentuk dengan baik hingga ruh telah ditiupkan sehingga ia telah hidup. Bulan ke empat kehamilan Itu adalah masa-masa setelah sang ibu perlahan mulai bisa keluar dari rasa mabuk, mual dan muntah-muntah hebatnya. Dan memang mulai sesekali terpikirkan gambaran rencana untuk sang bayi. Betapa Maha Kuasanya Allah dalam proses penciptaan manusia.

Masih jauh memang proses ia akan menghirup udara dengan hidungnya sendiri, merasakan langsung udara di luar rahim, atau mencicipi air susu dengan mulutnya. Tapi telah dituliskan ketetapan rezekinya untuknya. Sebanyak apa yang diperolehnya hingga masa ia kemudian menghembuskan nafasnya. Entah semua yang telah dipersiapkan orangtuanya akan dinikmati atau tidak olehnya, tetapi jalan rezekinya telah ditetapkan. Dan kami sebagai calon orangtuanya lah yang bertanggung jawab untuk menghantarkan ia memperoleh rizqon halalan toyyiban tersebut sepanjang ia ada dalam kepengasuhan kami.

Wallahu a'lam.


Tarikolot, 27 November 2025