Dari Ogah jadi Bismillah; Perjalanan Kesiapan untuk Menikah

“Takut ah, ngeliat orang-orang yang udah nikah cerita-ceritanya gitu amat”
“Takut gak bisa memenuhi ekspektasi orang dan gak nemuin orang yang diharapkan”
“Udah nyaman sendirian. Apa Mending gak usah nikah ya? Bisa kok ngurus diri sendiri”
Dan sederet pernyataan skeptis yang kerap menghiasi isi kepala ketika ditanya kapan nikah dan memikirkan akan menikah. Rasanya saya tidak butuh laki-laki untuk menghiasi hidupku, karna bisa melakukan apa-apa sendiri, punya penghasilan sendiri, sudah nyaman dan tidak berminat sedikitpun untuk terjalin hubungan serius dengan seorang laki-laki –bahkan cenderung menghindari laki-laki dengan niat dari obrolan, perbincangan ataupun sikap yang menuju ke arah serius.

Pernahkah kalian berada di posisi tersebut? Saya pernah, bertahun-tahun.

Pertanyaan Menyebalkan

Sebagai seorang perempuan yang menurut orang-orang sudah siap untuk menikah, pertanyaan seperti “kapan nikah?” kerap dijumpai dalam keseharian dalam nada bercanda. Orang-orang kebanyakan tidak pernah secara serius dan terperinci menanyakan “Sudah siapkah menikah?”
Dimulai sejak lulus kuliah hingga tahun-tahun menjalani status single, lingkungan kerja yang menjadi tempatku menghabiskan lebih banyak waktu malah menjadikanku perlahan muak dengan kata menikah.

Sebenarnya bukan hanya lingkungan kerja. Tapi rentetan-rentetan peristiwa sekitar yang terekam dalam memori, cerita dan pengalaman teman, hingga suguhan postingan di media sosial perlahan membentuk rasa skeptis tersebut. Rasa skeptis yang memunculkan perasaan nyaman sendiri, tidak percaya diri, dan merasa tidak cukup baik untuk menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga.

Saya sering terheran-heran dan merasa kagum pada teman-teman perempuan yang akhirnya memutuskan untuk menikah. Selalu bertanya-tanya dalam hati, apa yang ada di dalam kepala mereka? sampai pada keputusan apa mereka akhirnya bulat dan mempersiapkan diri untuk menikah? Jadi ketika ada teman-teman yang berkabar bahwa mereka akan menikah, satu hal yang akan kutanya dengan serius langsung di depan mereka adalah “Apa yang membuat dirimu akhirnya siap menikah?” Ini tidak berlaku ke semua teman-teman. Hanya terjadi untuk teman yang saya tau bahwa mereka tidak berpacaran lalu akhirnya berta’aruf dan lanjut menikah. Terkhususnya teman-teman yang mengabarkan akan mengikuti program Nikah Barokah.

For your information, program Nikah Barokah adalah salah satu budaya tahunan di Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Gunung Tembak, Kota Balikpapan di mana pada agenda tahunan ini, sejumlah pasangan santri dan santriwati atau ustadz-ustadzah yang sudah berkesiapan menikah, akan dikumpulkan, diberikan pembekalan selama 1 bulan, dita’arufkan (dicocok pasangkan melalui wawancara kriteria kemudian diperkenalkan dengan perantara para pembimbing), lalu dinikahkan dengan tujuan memperkuat serta memperluas jejaring dakwah dan kader Hidayatullah. Jumlahnya bervariasi setiap tahunnya, puluhan hingga ratusan. Dan bukan hanya di Balikpapan saja. Di Cabang lain seperti Kampus Batam, Kampus Depok, hingga seluruh kampus Indonesia cukup sering mengadakan agenda ini. Tapi yang di Balikpapan karena merupakan kampus induk, agenda selalu dilakasanakan setiap tahun dengan peserta calon pengantin yang berasal dari berbagai cabang di seluruh Indonesia akan menginap di sana dalam persiapannya.

Agenda Tahunan. 
Jadi bisa teman-teman bayangkan, tiap tahunnya ketika pendaftaran Nikah Barokah dibuka yang biasanya jauh-jauh hari sejak 5 hingga 3 bulan sebelum pelaksanaan, maka setiap itu pula kami-kami yang masih lajang ini di pondok-pondok cabang wilayah, daerah hingga kampus madya di seluruh Indonesia akan kerap menjumpai kalimat “Ikut daftar tidak?” “Ayo, sudah dibuka itu pendaftarannya!” “Jangan tunda-tunda lagi” dll., dsbg.
Mungkin rutinitas pertanyaan dan kalimat-kalimat ini yang membuat saya eneg.

Saya tidak memandang negatif budaya NIkah Barokah. Saya sangat mensyukuri betapa banyaknya santri-santriwati Hidayatullah yang sudah ada kesiapan menikah terbantu dengan agenda ini berpuluh tahun. Terbantu secara prosesnya yang selektif saat pendaftaran, cukup alot dan panjang saat seleksi calon/cocok pasang. Serta terbantu secara ekonomi dan tenaga karena dilaksanakan di pondok, dll. Kedua orang tua saya juga menikah melalui agenda ini di cabang NTT tahun 1996.

Tapi bagi saya yang belum ada ketertarikan menikah, ditanyai setiap tahunnya berhari-hari menjadi hal yang sangat menyebalkan!
Bayangkan, lagi lelah aktivitas, mumet dengan kerjaan lalu ditanyai pertanyaan menyebalkan! Makin sebal lah saya!

Apa gak usah nikah aja ya?

Saya tidak pernah pacaran, sebelum menikah.
Tapi disalahpahami dekat dengan orang sih cukup sering. Dikira punya hubungan serius dengan si ini lah. Dikira suka si itu lah. Di isukan akan menikah dengan orang, bahkan. Padahal menurut saya, saya sudah cukup menjaga jarak dengan laki-laki manapun.

Apalagi setelah melewati sebuah pengalaman semasa kuliah, di mana saya cukup sering bertukar pikiran dengan seorang laki-laki, sebut saja A, lalu tiba-tiba ada yang menanyakan ke saya “katanya si A serius ya sama kamu?” Lah, keringat dingin saya waktu itu.
Saya juga pernah “diteror” orang yang pernah membuat saya terganggu di zaman labil saat kuliah, padahal dia baru saja menikah. Istrinya sih sepertinya tidak tau. Saya sih istighfar saja berkali-kali kalau teringat kejadian itu. Berasa minta divalidasi sekali bahwa dia meninggalkan saya dan saya menyesali tidak menerimanya.

Maka sejak saat saya super-duper jaga jarak basa-basi di obrolan pribadi dengan laki-laki, bahkan sekadar mengirim emoticon.

Seiring berjalannya waktu, teman-teman dekat mulai menikah. Ada yang menjalani kehidupan dengan mulus, ada yang cukup berbatu dengan berat ringan ujiannya sendiri. Tentu saja setiap orang punya masalahnya, bedanya kecil besarnya. Bedanya bagaimana menyikapinya. Tapi beberapa cerita teman-teman yang sengaja curhat ke saya mengenai permasalahan mereka, membuat saya bertanya sendiri.
“Kenapa jadi istri sering disakiti ya?”
“Di mana sih titik rasa cukupnya laki-laki?
“Mereka yang cantik begitu saja disakiti. Apalah saya?”
Dan cerita-cerita itu makin membuat ketertarikan saya kepada pernikahan tidak bertambah sedikitpun, bahkan astaghfirullah nya saya pernah berpikir “Ngapain nikah?” meski tentu saja itu hanya selentingan lewat karena emosi melihat apa yang dialami teman-teman saya. Juga ditambah cerita perceraian, KDRT, perselingkuhan dll yang mewarnai jagat media sosial kian hari kian bertambah padca covid-19, membuat saya semakin merasa “takut” dan “malas” nikah. Pertanyaan “Lu nungguin apa sih?”, “Lu ngejar apa lagi?”, “Ingat umur” semakin mewarnai tapi saya menghindar saja.

Saking tidak pusingnya saya tentang pernikahan, akhirnya adik perempuan saya yang hanya berjarak 1 tahun dibawah saya, mendahului saya melangkah menuju jenjang pernikahan, melalui agenda Nikah Barokah yang saya tidak tertarik sama sekali itu.
“Adiknya sudah duluan loh.”
Lah terus kenapa? Dia mau nikah karena merasa siap membangun rumah tangga dan siap melalui jalur seleksi ta'aruf cocok pasang itu. Meski ada juga dramanya.
“Ayo, biar sama dengan adiknya! Masih buka kuota pendaftraran nih untuk catin perempuan”

Begitu yang saya dengar karna katanya di tahun itu beberapa peserta perempuan ada yang mengundurkan diri dan jumlah peserta laki-laki masih melebihi wanita sehingga pendaftaran kembali dibuka.

“Terimakasih. Saya tidak pernah merasa percaya diri, sanggup dan cukup untuk bisa disejajarkan dengan puluhan perempuan lain untuk kemudian dicocok pasangkan.” tandas saya.
Lebih utamanya, saya belum siap menikah.

Ada juga sih ada alasan-alasan lainnya. Seperti ssbagai anak sulung perempuan dari seorang single mom, keputusan menikah bagi saya memiliki pertimbangan bahwa saya akan meninggalkan ibu saya dan berpindah bakti. Itu rupanya jadi sebuah beban tersendiri bagi saya. Begitu juga yang tersirat dari setiap kata ataupun ekspresi ibu ketika saya iseng bercerita ada orang yang "berniat baik".
"Orang mana? Jauh tidak? Kaka betul sudah siap mau nikah kah ini?"

Menyiapkan Diri Dipilih & Memilih

“Ya kamu sebenarnya sudah siap untuk menikah belum?”
Itu pertanyaan teman baikku beberapa tahun lalu usai cerita panjang lebarku tentang orang yang mengajakku melangkah menuju pernikahan.
Dan saya terdiam. Iya ya! Apa poinnya dari tadi saya nyeritain ke dia kalau saya ternyata memang belum siap?
“Kalau ada orang yang berniat baik tapi kamunya belum siap ya sama saja”

Pertanyaan dan pernyataan teman saya tentang kesiapan saya itu begitu membekas hingga bertahun kemudian, ketika beberapa iklan kelas pranikah bermunculan di berbagai medsos saya, dengan izin Allah pula saya tergerak mengingat perkataan itu.
Ini iklan-iklan kenapa muncul terus dah di mana-mana? Apakah ini saatnya saya mulai belajar menyiapkan diri?

Maka di tahun ketika adik saya memutuskan menikah itu, saya malah baru mulai belajar menyiapkan diri. Duduk dengan takdzim mengikuti berbagai pertemuan online yang Alhamdulillah perlahan menjadi bekal persiapan dan membuka pikiran saya.

Kelas-kelas itu begitu bermanfaat mengisi waktu-waktu luang sore saya usai kerja dan menjadi bekal saya dalam menyambut pernikahan saya.

Adik saya kok sudah bisa lebih dulu siap? Saya tidak heran. Kuliahnya memang jurusan akhwalus syakhsiyah (hukum keluarga islam) ditambah kampusnya terletak di pondok yang tiap tahun dilaksanakan Nikah Barokah itu, jadi pasti pembahasan pernikahan dan rumah tangga itu sudah jadi makanan dan minumannya selama empat tahun.

Bismillah, belajar siap dulu. Siap untuk memilih ataupun dipilih. Karna bukankah menikah itu begitu? Kita saling memilih dengan siapa mau membangun biduk rumah tangga.

“Kita itu memang akan dipilih atau memilih. Apalagi sebagai perempuan ya… Tidak dipungkiri, bagaimanapun akan ada posisi kalau kita itu dipilih. Dipilih oleh laki-laki yang datang meminang dan dipilihkan oleh wali kita untuk diterima lamaran laki-laki tersebut (persetujuan)” ucap seorang teman dalam salah satu nasihat padaku.
Bukan hanya menikah sih.. bahkan melamar kerja juga. Kita memilih perusahaan atau tenpat kerja mana yang mau kita masukkan lamaran, lalu kita dipilih dalam proses seleksi.

Nikah itu salah satu peran penghambaan kepada Allah

Usai berbagai pertemuan dari kelas-kelas online pranikah itu, ada semacam kelegaan tersendiri bagi diri sendiri.
Saya tidak lagi memandang ogah dan takut pada pernikahan.
Mengapa harus begitu terpengaruh pada cerita-cerita buruk yang terjadi pada orang lain? Apakah saya su’udzon dengan Allah bahwa nanti nikah itu akan begini dan begitu? Kenapa tidak berdo’a dan berpikir yang baik-baik saja? Dan lain sebagainya pertanyaan refleksi yang menghantarkan saya dari takut menjadi bismillah saya siap.

Tahun-tahun setelah itu, saya tidak lagi ketus menanggapi pertanyaan-pertanyaan tentang nikah dan menanggapinya dengan santai, bercanda dan lebih terbuka.
“Jangan tanya kapan terus dong, sini bantu ta’arufin sama orang”
“Ya kalau memang dia berniat baik kita coba kenalan dulu”
“Afwan, kalau memang mau serius silahkan ke rumah ya”
Mungkin juga karena alur usia, semakin ada saja proses menuju ta’aruf, proses didekati oleh ikhwan, dan dihadapkan dengan pilihan-pilihan ikhwan.

Tentu tidak semua tawaran saya setujui atau iyakan untuk berproses. Masing-masing punya ceritanya sendiri. Ada yang saya ogah sampai kesal dan marah karna ya memang tidak tertarik sama sekali dengan pribadi orang tersebut. Ada yang sudah lanjut, cukup oke, di tengah jalan Allah tunjukkan hal-hal yang membuat saya memilih berhenti. Ada yang terhalang karna konon katanya masih kerabat. Ada yang berhenti dari awal hanya dari perkenalan latar belakang diri.

Alhamdulillah semua proses itu Allah tutup dengan sebuah pilihan yang datang justru disaat diri sedang ingin mengabdikan diri berbakti full kepada single mom kami. Pinangan laki-laki yang Allah beri kemudahan dalam prosesnya. Yang sudah lama timbul-tenggelam dalam beberapa tahun perjalanan hidup saya. Yang sekarang menjadi suami yang membuat saya bersyukur telah melewati semua proses kami menuju kedewasaan kami. Yang membuat saya salut dengan perjuangannya.

Dengan saya yang sudah merasa siap, tugas saya setelah yakin adalah menyampaikannya dengan baik-baik pada super single mom kami yang meski sadar anak perempuannya sudah berusia, tetap agak berat karna harus melepaskan saya merantau pergi mengikuti suami, di saat ia sedang merasa kehadiran saya sangat membantu meringankan kelelahannya.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Semoga Allah ridhoi, Semoga Allah berkahi dalam lindungan dan bimbinganNya. Aaamiin Allahumma aaamiin.



Tarikolot, 25 November 2025.